HIRADC Adalah Apa? Pengertian, Contoh, dan Cara Membuat HIRADC
Dalam dunia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), kecelakaan kerja tidak terjadi begitu saja. Banyak kecelakaan diawali oleh potensi bahaya yang sebenarnya sudah ada di tempat kerja, tetapi belum teridentifikasi atau belum dikendalikan dengan baik.
Karena itu, perusahaan perlu mengenali bahaya sebelum menyebabkan kecelakaan.
Salah satu metode yang banyak digunakan dalam manajemen risiko K3 adalah HIRADC.
Lalu, HIRADC adalah apa? Bagaimana cara membuatnya? Dan seperti apa contoh penerapannya di tempat kerja?
Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu HIRADC?
HIRADC adalah singkatan dari Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control.
Secara sederhana, HIRADC terdiri dari tiga tahapan utama:
- Hazard Identification - Identifikasi Bahaya
- Risk Assessment - Penilaian Risiko
- Determining Control - Menentukan Pengendalian
HIRADC merupakan metode yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi bahaya dalam suatu pekerjaan, menilai tingkat risiko yang mungkin terjadi, dan menentukan tindakan pengendalian yang tepat.
Dengan HIRADC, perusahaan dapat menjawab tiga pertanyaan penting:
Apa bahayanya?
Seberapa besar risikonya?
Bagaimana cara mengendalikannya?
Mengapa HIRADC Penting dalam K3?
HIRADC membantu perusahaan melakukan pencegahan sebelum kecelakaan terjadi.
Tanpa identifikasi bahaya yang baik, pekerja mungkin melakukan aktivitas yang terlihat normal tetapi sebenarnya memiliki risiko tinggi.
Contohnya adalah pekerjaan di ketinggian.
Sebuah pekerjaan mungkin hanya disebut sebagai:
Melakukan perbaikan di atas struktur.
Namun, melalui HIRADC, pekerjaan tersebut dapat dianalisis lebih detail.
Aktivitas: Bekerja di ketinggian.
Bahaya: Risiko jatuh dari ketinggian.
Dampak: Cedera serius atau fatal.
Pengendalian: Menggunakan sistem proteksi jatuh, melakukan pemeriksaan peralatan, menyediakan prosedur kerja aman, dan memastikan pekerja memiliki kompetensi yang sesuai.
Dengan demikian, HIRADC membantu perusahaan mengubah pendekatan dari:
Menangani kecelakaan setelah terjadi
menjadi:
Mencegah kecelakaan sebelum terjadi.
3 Tahapan Utama dalam HIRADC
1. Hazard Identification atau Identifikasi Bahaya
Tahap pertama adalah mengidentifikasi semua potensi bahaya yang terdapat dalam pekerjaan atau aktivitas.
Bahaya dapat berasal dari berbagai sumber.
Bahaya Mekanis
Contohnya:
- Mesin berputar
- Bagian mesin yang bergerak
- Conveyor
- Forklift
- Crane
- Benda tajam
Bahaya Listrik
Contohnya:
- Kabel rusak
- Panel listrik terbuka
- Instalasi listrik yang tidak sesuai
- Risiko tersengat listrik
Bahaya Fisik
Contohnya:
- Kebisingan
- Suhu panas
- Getaran
- Radiasi
- Pencahayaan yang kurang
Bahaya Kimia
Contohnya:
- Bahan kimia korosif
- Gas berbahaya
- Debu
- Uap kimia
Bahaya Ergonomi
Contohnya:
- Mengangkat beban secara manual
- Posisi kerja yang tidak ergonomis
- Gerakan berulang
- Posisi duduk terlalu lama
Bahaya Biologis
Contohnya:
- Bakteri
- Virus
- Jamur
- Limbah biologis
Setiap pekerjaan dapat memiliki lebih dari satu bahaya. Oleh karena itu, proses identifikasi harus dilakukan secara menyeluruh.
2. Risk Assessment atau Penilaian Risiko
Setelah bahaya ditemukan, langkah selanjutnya adalah melakukan penilaian risiko.
Penilaian risiko umumnya mempertimbangkan dua faktor utama.
Likelihood
Likelihood adalah tingkat kemungkinan suatu kejadian terjadi.
Contohnya:
- Sangat jarang
- Jarang
- Mungkin terjadi
- Sering terjadi
- Sangat sering terjadi
Severity
Severity adalah tingkat keparahan dampak apabila kejadian terjadi.
Contohnya:
- Cedera ringan
- Cedera sedang
- Cedera serius
- Cacat permanen
- Kematian
Secara sederhana, tingkat risiko sering dihitung menggunakan rumus:
Risk = Likelihood × Severity
Hasilnya kemudian dapat dikategorikan menjadi:
- Risiko rendah
- Risiko sedang
- Risiko tinggi
- Risiko ekstrem
Metode dan matriks risiko dapat berbeda sesuai dengan prosedur perusahaan.
3. Determining Control atau Menentukan Pengendalian
Setelah tingkat risiko diketahui, langkah berikutnya adalah menentukan tindakan pengendalian.
Pengendalian risiko tidak hanya berarti memberikan APD kepada pekerja.
Dalam K3 terdapat konsep Hierarchy of Controls atau hierarki pengendalian risiko.
Urutannya adalah:
1. Eliminasi
Menghilangkan sumber bahaya.
2. Substitusi
Mengganti sumber bahaya dengan alternatif yang lebih aman.
3. Engineering Control
Menggunakan pengendalian teknis.
Contohnya:
- Machine guarding
- Safety barrier
- Ventilasi
- Sistem interlock
4. Administrative Control
Menggunakan prosedur dan sistem kerja.
Contohnya:
- SOP
- Pelatihan
- Safety briefing
- Permit to Work
- Safety sign
5. Personal Protective Equipment
Menggunakan Alat Pelindung Diri atau APD.
Contohnya:
- Safety helmet
- Safety shoes
- Safety gloves
- Safety glasses
- Earplug
- Respirator
APD merupakan perlindungan penting, tetapi sebaiknya bukan menjadi satu-satunya pengendalian risiko.
Cara Membuat HIRADC
Berikut langkah-langkah sederhana dalam membuat HIRADC.
Langkah 1: Tentukan Aktivitas atau Pekerjaan
Tentukan pekerjaan yang akan dianalisis.
Contohnya:
- Mengoperasikan forklift
- Mengelas
- Bekerja di ketinggian
- Mengoperasikan mesin
- Mengangkat material
- Melakukan pekerjaan listrik
Aktivitas sebaiknya dibuat secara spesifik agar bahaya dapat diidentifikasi dengan lebih baik.
Langkah 2: Identifikasi Potensi Bahaya
Identifikasi semua bahaya yang mungkin muncul.
Contoh:
Aktivitas: Mengoperasikan forklift.
Potensi bahaya:
- Forklift menabrak pekerja
- Beban jatuh
- Forklift terbalik
- Operator kehilangan kendali
- Jalur kerja tidak aman
Langkah 3: Tentukan Risiko
Setelah bahaya ditemukan, tentukan dampak yang mungkin terjadi.
Contohnya:
Bahaya: Forklift menabrak pekerja.
Risiko:
- Cedera serius
- Patah tulang
- Kematian
Langkah 4: Nilai Tingkat Risiko
Berikan nilai terhadap:
- Likelihood
- Severity
Contoh:
Likelihood: 3
Severity: 5
Maka:
Risk Score = 3 × 5 = 15
Selanjutnya, tentukan kategori risiko berdasarkan matriks risiko yang digunakan perusahaan.
Langkah 5: Tentukan Pengendalian yang Sudah Ada
Catat pengendalian yang telah diterapkan.
Contohnya:
- Operator telah mendapatkan pelatihan
- Terdapat jalur khusus forklift
- Forklift memiliki alarm
- Dilakukan pemeriksaan sebelum digunakan
Langkah 6: Tentukan Pengendalian Tambahan
Jika risiko masih tinggi, perusahaan perlu menentukan pengendalian tambahan.
Contohnya:
- Memasang safety barrier
- Menambah safety sign
- Memisahkan jalur pejalan kaki
- Membatasi kecepatan forklift
- Meningkatkan frekuensi inspeksi
Langkah 7: Evaluasi Secara Berkala
HIRADC bukan dokumen yang dibuat sekali kemudian disimpan.
HIRADC perlu diperbarui apabila terjadi:
- Kecelakaan kerja
- Near miss
- Perubahan proses kerja
- Penggunaan mesin baru
- Penggunaan bahan baru
- Perubahan lingkungan kerja
- Ditemukannya bahaya baru
Contoh HIRADC Sederhana
Berikut contoh penerapan HIRADC pada aktivitas forklift.
| Aktivitas | Bahaya | Risiko | Likelihood | Severity | Pengendalian |
|---|---|---|---|---|---|
| Mengoperasikan forklift | Forklift menabrak pekerja | Cedera serius | 3 | 5 | Jalur forklift dan batas kecepatan |
| Mengangkat material | Beban jatuh | Cedera pekerja | 3 | 5 | Pemeriksaan beban dan kapasitas |
| Mengemudikan forklift | Forklift terbalik | Cedera serius atau fatal | 2 | 5 | Pelatihan operator dan seat belt |
| Area kerja | Jalur tidak aman | Tabrakan | 3 | 4 | Safety sign dan pemisahan jalur |
Catatan: Nilai risiko di atas hanya merupakan contoh. Penilaian risiko harus disesuaikan dengan kondisi aktual dan matriks risiko perusahaan.
Perbedaan HIRADC dan JSA
HIRADC dan JSA sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda.
HIRADC
HIRADC berfokus pada:
- Identifikasi bahaya
- Penilaian risiko
- Penentuan pengendalian
HIRADC dapat digunakan untuk aktivitas, proses, area, maupun pekerjaan.
JSA
JSA atau Job Safety Analysis berfokus pada analisis pekerjaan berdasarkan tahapan.
Biasanya JSA terdiri dari:
- Tahapan pekerjaan
- Potensi bahaya
- Pengendalian risiko
Secara sederhana:
HIRADC melihat bahaya dan risiko secara lebih luas.
Sedangkan:
JSA menganalisis bahaya berdasarkan langkah-langkah pekerjaan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat HIRADC
1. Hanya Menyalin Dokumen
HIRADC harus dibuat berdasarkan kondisi nyata di tempat kerja.
Menyalin dokumen dari perusahaan lain tanpa melakukan identifikasi langsung dapat menyebabkan bahaya penting tidak terdeteksi.
2. Terlalu Fokus pada APD
Pengendalian risiko tidak seharusnya hanya berhenti pada penggunaan APD.
Perusahaan perlu mempertimbangkan apakah bahaya dapat:
- Dihilangkan
- Diganti
- Dikendalikan secara teknis
- Dikendalikan melalui sistem kerja
3. Tidak Melibatkan Pekerja
Pekerja dan operator sering memahami kondisi aktual di lapangan.
Melibatkan mereka dapat membantu menemukan bahaya yang mungkin tidak terlihat oleh pihak lain.
4. Tidak Memperbarui HIRADC
Tempat kerja selalu dapat mengalami perubahan.
Perubahan mesin, proses, material, maupun metode kerja dapat menciptakan risiko baru.
Kesimpulan
HIRADC adalah metode untuk mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan pengendalian dalam penerapan K3.
Tiga tahapan utamanya adalah:
Hazard Identification - Mengidentifikasi bahaya.
Risk Assessment - Menilai tingkat risiko.
Determining Control - Menentukan pengendalian.
HIRADC membantu perusahaan mengenali potensi bahaya sebelum menyebabkan kecelakaan.
Namun, HIRADC bukan sekadar dokumen administrasi.
HIRADC harus menggambarkan kondisi nyata di lapangan, melibatkan pekerja yang memahami aktivitas kerja, serta diperbarui apabila terdapat perubahan.
Identifikasi bahayanya. Nilai risikonya. Tentukan pengendaliannya.
Karena dalam K3, mencegah selalu lebih baik daripada menangani akibat setelah kecelakaan terjadi.
"Kecelakaan kerja tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Sering kali, tanda dan potensi bahayanya sudah ada, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengenalinya sebelum terlambat."
PT Cipta Selamat Mandiri - Keselamatan dan Kesehatan Kerja



